Berita Wisata

Berita Update

Index Berita

Berita Olahraga

Berita Teknologi

Berita Kesehatan

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Disini

Kaba Kampuang

Berita Entertainment

Pasang Iklan Anda

Pasang Iklan Anda
Berita Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Salah satu wisata yang wajib Anda kunjungi saat berlibur ke Padang adalah "Aia Tajun Tujuah Tingkek Timbalun" atau Air Terjun tujuh tingkat. Air terjun ini menawarkan pesona alam yang sangat menarik.

Air Terjun tujuh tingkat atau dikenal juga dengan sebutan air tajun Timbalun merupakan wisata alam yang belum tersentuh glamour hedonisme kota. Air terjun ini terletak di Kampung Timbalun, Bungus timur dan hanya berjarak sekira 15 kilometer dari pusat Kota Padang.

Air terjun tujuh tingkat ini masih sangat alami akses jalan yang belum bagus bagi penikmat pemandangan alam, tidak bisa ditempuh dengan motor apalagi dengan mobil, harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer dengan menyeberangi dua anak sungai dan melewati pematang sawah sejauh 1 kilometer. kemudian mendaki bukit Timbalun yang dipenuhi pohon karet sambil menikmati suasana hutan pohon yang rindang.

Air yang dingin serta hembusan angin yang cukup kencang timbul dari derasnya air terjun yang mengalir ini membuat jiwa dan raga seolah menyatu dengan alam. Bahkan melihat airnya saja rasanya sangat sulit untuk menahan diri masuk atau menceburkan diri ke dalamnya.

Namun, pengunjung dibatasi untuk tidak berenang atau bermain air terlalu dekat karena bahaya yang dapat ditimbulkan dari derasnya air terjun.

Air Terjun tujuh tingkat ini dibuka setiap hari bagi siapapun tanpa dipungut biaya sepeserpun alias gratis, anda tertarik silahkan kunjungi Aia Tajun Timbalun.
Untuk mencegah "pemerasan" karena mahalnya harga makanan di rumah makan sepanjang pantai Padang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang akan menerapkan stiker rekomendasi wisata.

"Program ini merupakan usulan dari Disbudpar Padang untuk menunjang sektor pariwisata terutama kenyamanan pengunjung," kata Dian Fakhri Kadis Disbudpar Kota Padang.

"Kami sering mendengar kritik maupun saran dari para pengunjung atau wisatawan karena harga makanan yang dijual di rumah makan tersebut mahal dan ini sangat tidak bagus bagi perkembangan pariwisata kita," Dian Fakhri menambahkan.

Disbudpar Kota Padang melalui jajarannya akan memberi stiker rekomendasi untuk setiap rumah makan disepanjang Pantai Padang. Apakah sudah layak untuk wisata. Stiker rekomendasi ini diberikan sesuai penilaian dan kriteria serta aturan yang telah ditetapkan.

"Pemberian stiker rekomendari ini bertujuan agar para pelancong tidak lagi "takicuah" dengan harga yang diluar nalar dari rumah makan dan rumah makan tersebut wajib menyediakan daftar harga," katanya.

Dian Fakhri lalu menambahkan selama ini banyak rumah makan di sepanjang pantai Padang tidak menyediakan daftar harga untuk makanan maupun minuman yang mereka jual. Dan berakibat ketika wisatawan akan membayar transaksi maka mereka terkejut dengan harga yang fantastis.

Menurut rencana, pemberian stiker rekomendasi ini akan dimulai pada awal bulan Agustus tahin ini. Anggaran yang diambil dari APBD-P 2015 dan telah disetujui.
Padang, MinangkabauNews -- Ketua Kamar Dagang Indonesia Sumbar, Asnawi Bahar mengungkapkan Kebakaran lahan Riau, Jambi dan Sumsel dinilai telah mengakibatkan kerugian industri pariwisata di Sumatera. Wisatawan mancanegara yang masuk ke ketiga provinsi itu 5000 orang perharinya, jika Rp1juta saja turis menghabiskan uangnya berarti daerah rugi Rp5 milyar perhari.

Demikian disampaikan Ketua Kamar Dagang Indonesia Sumbar usai pembukaan rapat kerja IOLGF di Hotel Mercure, Selasa, (8/9)

Pemerintah harus serius mengangani kebakaran lahan di tiga provinsi itu, hal ini berdampak luar biasa bagi rakyat kecil. bencana ini sudah berlangsung setiap tahun selama 18 tahun terakhir. "Ini menambah beban bagi kita, industri pariwisata terpukul, saya khawatir 10 juta wisman setahun tidak tercapai," tandasnya

Kabut asap tidak sehat, turis tidak mau lagi pergi traveling, group biro travel perjalanan banyak membatalkan perjalanannya gara-gara kabut asap menyelimuti Riau, Jambi, Sumsel dan termasuk Sumatera Barat. "Nggak mungkin dong turis disuruh datang ke sumatera untuk berwisata pakai masker, aneh juga kelihatannya," tuturnya.

Kendati Sumbar tidak ada penerbangan yang dibatalkan, namun efek kabut asap sudah membuat panik travel bagi turis untuk datang berkunjung ke Sumatera termasuk ke Kota Padang.

Kabut asap dikhawatirkan pihak biro perjalanan dan kamar dagang industri yang telah mengkibatkan industri pariwisata lesu, ditambah lagi dengan tingginya beban nilai tukar dollar yang mengajibatkan lesunya ekonomi dalam negeri. "Tidak ada jalan lain kecuali pemerintah dan semua pihak harus terlibat mengawal pemadaman api sehingga efek domino kabut asap tidak merugikan rakyat kecil," katanya.

Tambahnya, pemerintah pusat harus mengawal penanganan kebakaran lahan ini agar tidak terlalu banyak kerugian di industri pariwisata.
Kunjungan wisatawan ke objek wisata Ngarai Sianok, Bukitinggi mengalami penurunan sejak daerah itu diselimuti kabut asap dalam tiga pekan terakhir.

Biasanya jumlah kunjungan mencapai 800 orang pada hari libur dan akhir pekan. Saat ini hanya sekitar 600 orang”, kata Petugas Pengelola Objek Wisata Ngarai Sianok Burhan, Sabtu (12/9).

Kabut asap menyebabkan wisatawan enggan berkunjung karena pemandangan alam Ngarai Sianok yang terkenal dengan keindahannya tidak lagi dapat dinikmati..

“Pada hari biasa saja kunjungan mencapai 400 orang sekarang hanya 100 orang dan sebagian besar berasal dari Malaysia,” lanjutnya.

Untuk masuk objek wisata Ngarai Sianok pengunjung dipungut bayaran sebesar Rp5.000 pada hari biasa dan Rp8.000 ketika libur.

Sementara Gafur salah seorang pengunjung asal Pekanbaru mengatakan akibat kabut asap Ngarai Sianok menjadi kurang menarik dikunjungi, karena pemandangannya tertutup kabut.

“Kalau cuaca cerah pemandangan alamnya bagus sekarang tidak kelihatan karena terhalang kabut,” tuturnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan asing ke Sumbar pada Juli 2015 turun 4,32 persen menjadi 3.569 orang.

“Pada Juni 2015 kunjungan wisatawan dari luar negeri mencapai 3.730 orang, Juli turun menjadi 3.569 yang sebagian besar masih berasal dari Malaysia,” kata Kepala BPS Sumbar, Yomin Tofri.

Wisatawan mancanegara yang paling banyak berkunjung ke Sumbar pada Juli berasal dari Malaysia sebanyak 2.203 orang, Australia 234 orang dan Belanda 82 orang.

Kemudian, Perancis 64 orang, Inggris 35 orang, Amerika Serikat 34 orang, Jerman 27 orang, Thailand 22 orang, Tiongkok 21 orang, Korea Selatan 11 orang serta negara lainnya 836 orang, kata Yomin.

Salah satu faktor penyebab kunjungan wisatawan masih didominasi dari Malaysia, karena ada akses penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Bandara Internasional Minangkabau.

Sementara jumlah wisatawan mancanegara bulan Januari-Juli 2015 mengalami penurunan sebesar 19,00 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Wisatawan asing ini memberikan kontribusi sebesar 0,44 persen terhadap total wisatawan mancanegara, yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 814.233 orang, ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih mengembangkan potensi wisata yang ada, dengan menata objek wisata mengingat peluang cukup besar bagi pengembangan ekonomi.
Terjadinya pendangkalan di kawasan Muara Pariaman menyulitkan kapal pengangkut wisatawan menuju objek wisata pulau Kota Pariaman.

Ketua Samudra Wisata Pariaman, Alek (50) mengatakan sudah hampir satu minggu kapal wisata mengalami kesulitan untuk keluar dari bibir muara, karena mengalami pedangkalan yang mencapai 20 sentimeter.

“Jika kapal wisata ingin ke pulau, kami terpaksa harus mendorong secara bersama-sama untuk mencapai bibir pantai,” kata dia.

Dalam dua tahun terakhir, kondisi sekarang merupakan keadaan paling parah bagi para pengusaha kapal wisata, karena lumpur dan pasir yang semakin menebal di bibir muara.

Hingga saat ini kedalaman air hanya berkisar 20 sentimeter, hal tersebut berdampak langsung kepada perekonomian masyarakat sekitar.

“Biasanya satu kapal bisa membawa penumpang empat hingga lima orang dalam satu pemberangkatan,” jelasnya.

Namun akibat pedangkalan bibir muara, para pengusaha kapal hanya bisa mengangkut penumpang dua hingga tiga orang saja.

Sebagai Ketua Kapal Wisata kota itu, Alek telah meminta bantuan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) setempat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, namun hinggga saat ini belum ada tanggapan.

“Kita telah meminta pendapat kepada dinas terkait, namun belum ada solusi,” ucap dia.

Salah satunya cara agar aktivitas kembali normal adalah dengan mengeruk bibir muara akibat pedangkalan yang terjadi.
Tumbuh berseberangan dan membentang di atas sungai batang bayang, akar batang beringin dan batang kubang terjalin menjadi jembatan. Masyarakat setempat menyebutnya Titian Aka. Kokoh berdiri semenjak ratusan tahun yang lalu. Inilah sajian alam nan indah dan alami. Keindahan yang disajikan dari generasi ke generasi. Jembatan akar dengan panjang tigapuluh meter, lebar satu meter dan tinggi delapan meter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan penikmat wisata alam.

Pesisir Selatan memang terkenal dengan keindahan tempat-tempat wisatanya. Tak hanya terkenal dengan keindahan wisata bahari seperti Pantai Carocok ataupun Kawasan Mandeh, kabupaten ini juga menyimpan pesona alam yang tak kalah indah dari tempat-tempat wisata lainnya. Salah satunya adalah keindahan dan keunikan Jembatan Akar.

Bentuk jembatannya yang unik serta terbuat dari akar kayu memang jarang untuk ditemukan ditempat lain. Tak heran jika banyak orang berkunjung dan berwisata kesini. Faktor lainnya yang mendukung adalah kemudahan akses menuju lokasi dan terjangkau.

Obyek wisata Jembatan Akar ini terletak 88 km di bagian selatan kota Padang, tepatnya di Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh dengan angkutan umum, travel, motor, mobil sewaan atau mobil pribadi.

Jembatan Akar memang unik, sebab dirajut dari akar pohon yang tumbuh di kedua sisi sungai Batang Bayang dan membentuk menjadi jembatan utuh. Keunikan lainnya adalah jembatan itu semakin kuat seiring pertumbuhan pohonnya. Hal ini tentu berbeda dengan jembatan biasa yang dibuat dari kayu atau campuran semen, yang akan melapuk mengikuti umur.

Walau sudah berumur ratusan tahun, akar-akar yang melilit dibadan jembatan tumbuh besar, saat ini sudah mencapai sebesar paha orang dewasa. Dengan bertambah besarnya akar-akar tersebut membuat jembatan tidak mudah goyah sekalipun dilewati oleh sepuluh orang.

Jembatan akar di Pesisir Selatan ini lebih panjang dari jembatan akar yang ada di perkampungan Baduy, Banten dan jembatan akar yang ada di Jepang. Bahkan jembatan yang diperkirakan berumur 100 tahun ini mempunyai nilai sejarah tinggi.

Konon, jembatan ini dibuat oleh seorang ulama bernama Pakih Sokan bergelar Angku Ketek, untuk menghubungkan dua kampung yang dipisah oleh sungai batang bayang. Jembatan dibangun tahun 1890, tetapi baru dapat digunakan masyarakat setempat pada 1916. Dengan kata lain, proses merajut akar menjadi jembatan ini membutuhkan waktu lebih kurang 26 tahun.

Khaidir (83), salah seorang tua kampung Lubuk Silau menceritakan Pakih Sokan mengajar mengaji di kampung tersebut. Melihat murid-muridnya kesulitan menyeberangi sungai saat hendak pergi mengaji saat hujan, Pakih Sokan membuat jembatan dan menanam pohon di kedua sisi sungai.

Seiring waktu, Jembatan Akar itu semakin kokoh dengan akar-akar seukuran paha orang dewasa, dan tidak goyah meski dilewati oleh sepuluh orang.

Guna menjamin keselamatan dan keamanan pengunjung, pengelola tempat wisata itu telah memasang tali penyangga terbuat dari baja guna mengurangi tekanan/beban dari setiap pengunjung yang melintas. Juga dibangun jembatan gantung yang berada tidak jauh dari jembatan akar guna mengurangi fokus perlintasan pengunjung yang datang.

Selain itu Sungai Batang Bayang juga bisa dimanfaatkan untuk olahraga arung jeram yang cukup menantang karena terdapat banyak batu batu besar sepanjang badan sungai.

Sungai Batang bayang yang terkenal dengan kejernihan dan kesejukan airnya, juga menjadi daya tarik tersendiri.

Jika pengunjung berdiri di atas jembatan dan memandang sungai, terlihat jelas ikan-ikan (pareh) berbagai ukuran berenang kian kemari. Namun tidak diperbolehkan menangkapnya dalam bentuk apapun. Sebab ikan tersebut “keramat” atau telah di sumpah (uduh) oleh masyarakat setempat dan hanya dapat diambil atau di panen pada waktu-waktu tertentu.

Walaupun begitu di jernih dan sejuknya air sungai batang bayang, pengunjung dapat mandi sepuasnya dengan dikerumuni ikan-ikan. Ada cerita bahwa muda-mudi yang berenang di sungai itu akan segera mendapatkan jodoh.

Dasar sungai juga banyak tersedia aneka batu yang bisa diolah menjadi cincin batu akik. Pengunjung yang tertarik, bisa mengambil batu dengan menyelam ke dasar sungai atau berburu batu disepanjang tepian sungai.

Lucy (33) wisatawan asal Inggris, saat ditemui di lokasi mengakui bahwa Jembatan Akar ini sangat unik. “It’s very beutiful dan saya puas berfoto di tempat ini,” katanya.

Dia sangat penasaran dan merencanakan liburan ke Sumbar untuk mengunjungi jembatan akar, ketika mengetahui informasi melalui internet. “Saya ingin sekali bermalam disini, menghirup sejuknya udara pagi serta mandi di sungai, namun sepertinya tidak ada tempat penginapan atau homestay dekat lokasi ini,” katanya.

Meski belum ada penginapan, pemda setempat telah membangun fasilitas parkir di tempat wisata tersebut. Warung-warung yang menjual aneka makanan dan minuman dan masyarakt sekitar lokasi juga siap melayani wisatawan.

Jembatan Akar juga bakal makin ramai, karena Pemkab Pesisir Selatan berencana membangun jalan yang menghubungkan dengan Pemkab Solok.

Biasanya Jembatan Akar ramai dikunjungi wisatawan domestik seperti dari Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Riau, ketika moment Balimau atau menjelang Bulan Ramadhan, saat liburan seperti lebaran dan hari besar. Sedangkan wisatawan manca negara datang setiap waktu di hari-hari biasa.

Makin ramainya Jembatan Akar dikunjungi wisatawan, tentu akan mengangkat perekonomian masyarakat setempat.

Kelestarian Hutan

Jembatan Akar pada Sungai Batang Bayang yang merupakan penghubung beberapa kampung, salah satunya Kampung Lubuk Silau, terletak diantara dua buah gunung yaitu Gunung Jantan dan Gunung Batino tempat dimana masyarakat Nagari Puluik-Puluik hidup.

Kampung Lubuk Silau merupakan salah satu kampung yang berada di lereng Gunung Batino, ekonomi masyarakatnya terfokus pada hasil hutan bukan kayu. Maka tidak heran jika kita akan menyaksikan rimbunnya hutan disekitar kampung ini.

Kejernihan dan kesegaran air Sungai Batang Bayang tidak terlepas dari fungi hutan yang terjaga di nagari tersebut. Hutan masih terjaga lebat, tidak ada aktiftas pembalakan membuat kawasan ini tetap terjaga. Masyarakat setempat tetap komitmen mempertahankan hutan untuk menghindari ancaman longsor.

Meski begitu, masyarakat masih bisa memanfaatkan hutan untuk mendukung perekonomian dengan menanami kulit manis, karet, pala, damar, pinang. Di kawasan yang landai, masyarakat menanam padi dan palawija. Pengelolaan seperti ini sudah dilakukan masyarakat turun-temurun. Peladangan yang berada di daerah kelerengan ditanami tanaman berumur panjang untuk investasi jangkan panjang. Walaupun begitu masyarakat juga menanam tumbuhan yang dapat dipanen setahun sekali di ladangnya.

minangmaimbau.com - Kebun Binatang Bukittinggi tak bisa dilepaskan dari sejarah pembangunan Benteng Fort de Kock. Selain berada di tempat yang berdekatan, Belanda membangun kebun bunga yang kelak menjadi kebun binatang, sebagai pelengkap wisata dari penguasa waktu itu.

Fort de Kock adalah permulaan, kemudian dilengkapi taman bunga setelah suasana aman. Bila taman dibangun di Bukit Malambuang, benteng sudah didirikan sejak 1825 di Bukit Jirek.

“Benteng Fort de Kock oleh pemerintah kolonial pada 1825 untuk pertahanan saat Perang Paderi (1821-1837),” kata Sejarawan Universitas Andalas Gusti Asnan beberapa waktu lalu.

Saat Belanda mencoba memasuki ranah Minang, mereka harus berpikir dua kali, karena ini bangsa yang tak sanggup ditaklukkan dengan meriam dan senjata. Mereka memutar otak. sehingga mereka mengadu domba masyarakat Minang dengan memecahnya jadi dua kubu, kubu adat dan kubu agama hingga pecah lah perang Paderi pada tahun 1821.

Belanda berpihak pada kaum adat dan untuk membuat sentra perlawanannya, maka kapten Belanda yang bernama Bauer mendirikan benteng di atas bukik jirek kota Fort De Kochk yang kini dinamai Bukittinggi.

Benteng ini memiliki meriam di setiap sudutnya dan ini merupakan markas Belanda dan cikal bakal dari expansi Belanda ke ranah Minang.

Benteng ini didirikan pada tahun 1825 untuk mecegah dan mempertahankan kekuasan Belanda dari kaum paderi dan kala itu dikomandani oleh Fort De Kock.

Benteng yang banyak menyisakan sejarah itu kini hanya tinggal sebuah taman wisata yang berbukit tanpa peninggalan sejarah yang di lestarikan. Benteng Fort De Kock yang di hubungankan antara Taman Marga Satwa Bukittinggi Kinantan dengan jembatan Limpapeh yang megah itu.

Tidak banyak bukti-bukti sejarah yang masih bisa kita dapati hari ini di benteng Fort De Kock selain sebuah batu prastasi yang di tandatangani pemerintrahan kota Bukittinggi pada tahun 2003. Namun situs ini memiliki nilai sejarah yang amat tinggi,

“Dengan adanya benteng fort de kochk ini maka ada kota bukittinggi seperti saat ini, karena sejarah bernula dari situ” ujar Ikbal, kepala Taman Marga Satwa Bukittinggi Kinantan.

Kini di Benteng Fort de Kock, terasa lebih sejuk saat mendengar kicauan berbagai jenis burung yang di sangkarkan oleh pihak TMSBK. Ada kuda yang bisa disewa untuk ditunggangi sambil berkeliling dan juga taman yang rapi untuk rehat setelah penat berjalan berkiling Bukittinggi.
1. Pantai Pariaman

Terletak tidak jauh dari Kota Pariaman. Pantai ini memiliki pasir putih dan landai, serta ombak tidak terlalu besar sehingga cocok untuk berenang dan bermain. Sepanjang pantai ditumbuhi pohon cemara sehingga terkesan sejuk dan asri.

Pantai ini dikenal dan selalu ramai terutama pada waktu perayaan rakyat tabuik dan libur nasional. Tetapi yang menjadi favorit saya mengunjungi pantai ini ketika matahari terbenam (sunset), di mana warna dan awannya begitu memukau siapa saja yang datang ke sini.

2. Pantai Air Manis

Pantai Air Manis yang merupakan tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal dan asing karena memiliki gelombang yang rendah dan pemandangan indah Gunung Padang. Ada juga sebuah pulau kecil bernama Pisang Kecil.

Dari pagi hingga sore, Anda bisa berjalan kaki ke pulau yang memiliki luas satu hektar ini melalui air dangkal. Di sore hari, air pasang mulai naik dan Anda harus menggunakan perahu untuk kembali. Di sebelah kanannya, ada pulau lain yang disebut Pisang Besar. Penduduk lokal di pulau ini sebagian besar petani dan nelayan.

3. Pantai Pasumpahan

Pantai Pasumpahan yang terletak di Pulau Pasumpahan yang berada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang. Oleh karenanya pulau ini dekat dengan Kota Padang, Anda hanya naik speedboat dari Teluk Bungus. Gara-gara keindahan lautnya membuat pulau ini mulai dikenal oleh wisatawan lokal dan internasional.

4. Pantai Pagang

Hamparan pasir di sepanjang pantai Pagang yang disertai deburan ombak menjadi daya utama pantai ini. Sebuah pulau mungil yang melayang di lepas pantai, menjadi bonus pemandangan yang bernilai. Bentangan pantai landainya yang dialasi miliaran butir pasir putih, suasananya yang hening memang daya tarik unggulan dari pulau ini.

Di sini para wisatawan akan serasa terisolir jauh keriuhan kota meski sebenarnya hanya selangkah dari keramaian kota. Berkeliling di pulau ini bakal terasa menyenangkan.

Dengan berjalan kaki wisatawan dapat menyaksikan panorama alam sekeliling pulau yang begitu memanjakan mata. Maka tidak salah kalau Pulau Pagang ini disebut sebagai salah satu Pantai terindah di Sumatera Barat.

5. Pantai Bungus

Pantai ini terletak dekat dengan Kota Padang, hanya berjarak kurang dari 1 jam kita bisa ke pantai ini. Yang membuat pantai ini indah karena letaknya di teluk, sehingga garis pantai kita bisa nikmati. Akan lebih indah jika kita paragliding dan menikmati keindahan pantai dari atas udara.

6. Pantai Pisang Kecil dan Pisang Besar

Untuk bisa maksimal menikmati pantai ini caranya dengan menaiki bukit yang dekat dengan Pantai Air Manis. Di sini tampak jelak keindahan pantai dan pulau yang berada di kawasan ini. Pantai ini merupakan tempat favorit saya, karena sambil menikmati pantai kita bisa memotret para teman-teman yang paragliding di daerah ini.

7. Pantai Pemutusan

Pantai Pemutusan di Pulau Pemutusan ini diharapkan akan menjadi daerah tujuan wisata unggulan di Provinsi Sumatera Barat. Pulau ini terletak di sebelah barat. Untuk menuju pulau ini memakan waktu 60 menit dari Pulau Pisang dengan mesin 45 PK.

Potensi wisata bawah laut di kawasan wisata bahari pantai barat Kota Padang adalah kawasan ekosistem terumbu karang yang terdapat hampir di setiap pulau, di antaranya di Pulau Gosong.

Selain dari terumbu karang berbagai jenis ikan karang/ikan-ikan hias juga sangat menarik untuk dinikmati oleh wisatawan. Di perairan Kota Padang ditemukan 21 jenis ikan kepe-kepe yang didominasi oleh Chaetodon trifascialis. Lokasi-Iokasi penyelaman yang sudah mulai dipasarkan kepada wisatawan.
Objek Wisata Di Sumbar Dipadati Pengunjung
minabgmaimbau.com - Libur Lebaran mendatangkan berkah tersendiri bagi Sumbar. Objek wisata yang tersebar di seluruh kabupaten/kota dipadati pengunjung yang sebagian besar adalah perantau. Selain Kota Bukittinggi, pengunjung juga memadati objek wisata yang ada di Kota Sawahlunto, Padangpanjang, Kabupaten Solok, Pesisir Selatan, dan Tanahdatar.

Seperti di Sawahlunto, kota yang beberapa tahun belakangan menjelma jadi destinasi wisata andalan Sumbar ini dipadati pengunjung. Beberapa objek wisata, seperti Water Boom, Taman Wisata Kandi, Museum Kereta Api, dan lainnya dipadati pengunjung.

Pantauan Padang Ekspres, Water Boom yang terletak di Muarokalaban dipadati pengunjung yang sebagian besar berasal dari Sijunjung, Dharmasraya, Solok, dan Tanahdatar. Padatnya pengunjung membuat jalan lintas tengah Sumatera macet hingga satu jam perjalanan.

Berbeda dengan di Taman Wisata Kandi. Di objek wisata yang memanjakan pengunjung dengan kebun binatang dan permainan ini, pengunjung disediakan lahan parkir luas dan jauh dari jalan raya, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas.

Desi, 39, mengatakan dia baru pertama kali ke Taman Wisata Kandih. Dia datang bersama keluarga berjumlah 18 orang. "Saya memilih ke Sawahlunto untuk mengajak anak-anak main karena menghindari macet di Kota Padangpanjang dan Bukittinggi. Ternyata kena juga di Muarokalaban. Saya pikir ini harus cepat diatasi sehingga orang nyaman berwisata ke Sawahlunto," ujar perantau asal Kepri ini.

Menurutnya, dari sisi objek wisata, Sawahlunto sangat menjanjikan. Apalagi didukung infrastruktur memadai. Dia yakin suatu saat Sawahlunto akan jadi destinasi wisata utama Sumbar. "Jalan di sini bagus, objek wisata dirancang begitu kreatif, menarik dan sangat cocok untuk keluarga. Kulinernya juga lumayan mendukung, namun perlu ditambah. Karena yang khas saya rasa hanya ada di Silungkang, jauh dari kota," ujarnya.

Ramai Pengunjung
Sementara itu di Dermaga Danau Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok pengunjung juga ramai berdatangan dari berbagai daerah di Sumbar. Sejak awal Lebaran hingga kemarin kawasan taman wisata tersebut masih dibanjiri ribuan pengunjung.

Tingkat kunjungan masyarakat yang ingin menikmati keindahan danau, meningkat tiga kali lipat dari tahun lalu. Kondisi itu ternyata memicu kemacetan.

Pantauan Padang Ekspres kemarin (31/7), ratusan kendaraan berjejer memadati arena parkir taman Dermaga Singkarak. Ribuan pengunjung tampak menikmati wisata alam di danau yang menjadi ikon balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) tersebut.

Puluhan anak-anak dan juga orang dewasa tampak mandi-mandi di tepian dekat dermaga apung Danau Singkarak.

Keramaian ini menimbulkan kemacetan panjang di jalan lintas Solok-Bukittinggi. Sejak pukul 16.00 hingga pukul 22.00 ribuan kendaraan terjebak macet hingga jembatan Ombilin Kabupaten Tanahdatar.

Pengelola taman Dermaga Singkarak, Zulkifli, 54, mengatakan tahun ini terjadi lonjakan pengunjung dibanding tahun sebelumnya.

Keberadaan dermaga apung memang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ditambah lagi, anak-anak dapat bermain dan mandi-mandi di tepi danau. Selain iu, ada yang sekadar berhenti untuk berfoto di dermaga apung.

Kapolsek Singkarak Iptu Poniman mengatakan, untuk mengatasi kemacetan, kepolisian mendirikan pos pengamanan lebaran di kawasan tersebut. "Penempatan petugas di pos pelayanan ini dimulai sejak 21 Juli 2014 hingga 5 Agustus 2014," kata Iptu Poniman.

Dengan adanya pos pam tersebut, menurutnya kepadatan arus lalu lintas yang puncaknya sejak awal Lebaran, hingga kemarin masih bisa teratasi. "Kalau macet, itu pasti. Tapi, Alhamdulillah, hingga hari ini kendaraan masih jalan," imbuh Poniman, kemarin.

Selain itu, lanjut Poniman, kondisi di sepanjang Dermaga Danau Singkarak masih aman terkendali. Tidak ada laporan pengunjung atau warga yang ternggelam atau kejadian menonjol lainnya.
Kepadatan pengunjung juga terlihat pada objek wisata di Tanahdatar dan Padangpanjang. Di Tanahdatar, yang menjadi tujuan pengunjung adalah Istano Pagaruyung dan Danau Singkarak serta Mega Mendung, sedangkan Padangpanjang adalah objek wisata Mifan.

Di Padangpanjang, petugas kepolisian bekerja ekstra keras mengurai arus lalu lintas agar tidak menimbulkan kemacetan. Sebagian besar personel diturunkan untuk mengantisipasi kemacetan, terutama di pintu keluar masuk Mifan.

Arus lalu lintas di Kota Padangpanjang tampak memuncak sejak H+3 hingga Kamis (31/7). Kepadatan arus kendaraan terjadi pada segala arah, seperti Padangpanjang-Bukittinggi, Batusangkar dan Solok serta arah Padang.

Pantauan Padang Ekspres hingga malam H+4 kemarin, hampir seluruh jalan-jalan utama di kota berhawa sejuk itu dipadati kendaraan. Kemacetan parah sempat terjadi sejak pukul 23.00, Rabu (30/7) malam dan baru terurai secara sempurna pukul 03.00 Kamis (31/7). Sementara itu, tadi malam kendaraan yang melintasi Lembah Anai menuju Padang juga masih padat merayap. Kapolres Padangpanjang AKBP Djoni Hendra yang turun langsung ke lapangan mengatakan, kendaraan yang meningkat lebih banyak dibandingkan Lebaran tahun lalu.

Djoni memaparkan, ada beberapa simpul-simpul yang berpotensi kemacetan tidak terelakkan akibat ketidakseimbangan volume kendaraan dengan pengembangan sarana jalan.

Di antaranya kawasan Air Mancur, Bukitberbunga, Simpang Mifan yang bertautan dengan pondok sate dan rumah makan Pak Datuk, Simpang Kampung Baru dan Simpang MTsN Ganting. "Dengan strategi evaluasi pengamanan liburan Lebaran tahun-tahun sebelumnya, kami menerapkan sistem penempatan personel secara benar, memberdayakan imbauan melalui spanduk dan menegaskan personel untuk bertindak tegas terkait disiplin berkendara tanpa pilih warna plat nopol kendaraan. Paling utama, kepada personel diimbau untuk bekerja ikhlas meski diguyur hujan sejak Lebaran," tutur Djoni Hendra.

Selain memastikan kelancaran arus kendaraan pada jalur utama, Kapolres AKBP Djoni Hendra juga menyebutkan pihaknya berkonsentrasi terhadap ketertiban dan keamanan pengunjung objek-objek wisata di wilayah hukumnya. Seperti Air Mancur, Mega Mendung, Mifan dan Tanjung Mutiara di wilayah Kabupaten Tanahdatar.

Khusus objek wisata terbesar di Sumatera, Mifan Water Park & Resort, Djoni Hendra menegaskan telah berkoordinasi dengan pihak pengelola terkait pengelolaan arus kendaraan pengunjung. Terutama arus masuk dan keluar, yang sangat berkaitan langsung dengan kelancaran arus lalu lintas di kota setempat.

"Kita menempatkan personel setidaknya dua orang untuk kondisi normal di persimpang menuju objek wisata tersebut. Sedangkan secara umum, jajaran polres juga menerapkan rekayasa lalu lintas yang dibuat guna mengatasi kemacetan parah. Baik untuk pengguna jalan melewati Padangpanjang, maupun khusus bagi pengunjung Mifan. Harapan kita, objek wisata kebanggaan masyarakat Minang ini tetap menjadi primadona. Tidak hanya lebaran, namun juga momentum lainnya," tutur Djoni didampingi Kasat Lantas AKP Reddy Triananto.

General Manager Mifan Pardinal mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan jajaran Polres Padangpanjang untuk antisipasi membeludaknya pengunjung dan menambah lifeguard.

Wisata Kereta Api
Di sisi lain, berwisata ke Pantai Gondaria Pariaman dengan menaiki kereta api masih menjadi alternatif liburan menarik bagi sebagian masyarakat Kota Padang. Ini terlihat dari antusias warga yang sudah antre sejak pagi hari di stasiun kereta api di Jalan Stasiun, Kecamatan Padang Timur, kemarin (31/7). Pengunjung yang sebagian besar datang berombongan ini tampak antusias menunggu kereta.

Nursiah, 43, salah satu warga Taruko mengaku memilih berwisata naik kereta api karena lebih ekonomis dan tempat yang dituju tergolong dekat. "Kebetulan anak-anak minta naik kereta api ke Pariaman. Ya sudah saya bawa, apalagi ongkosnya juga murah cuma Rp 20 ribu pulang-pergi, selain itu angkutan kereta api di Padang tergolong aman dan nyaman," ujar ibu empat anak ini.
Meski begitu, Manajer Humas PT KAI Divre Sumbar, Romeyo mengatakan, jumlah penumpang angkutan wisata Lebaran tahun ini cenderung menurun. "Sejak H+1 rata-rata sehari penumpang yang menaiki kereta hanya berkisar 2.500 orang. Padahal tahun lalu dalam sehari bisa mencapai 5.000 orang," ujarnya.

Ia memaparkan, angkutan wisata Lebaran Padang-Pariaman akan diberlakukan selama 6 hari, yakni sejak H+1 atau tanggal 29 Juli hingga 3 Agustus. Setelah itu kembali ke angkutan seperti biasa yakni regular dan wisata Dang-Tuanku. "Untuk perjalanan kereta api wisata Lebaran kami menjalankan empat kali dari Padang, dan juga empat kali dari Pariaman. Mulai dari Padang pukul 07.30 nanti dari Pariaman pukul 08.40. Dalam satu hari bisa berjalan delapan KA wisata Lebaran pulang-pergi," ulasnya.

Sedangkan untuk harga tiket memang mengalami perubahan. PT KAI memberlakukan harga tiket bisnis, yaitu Rp 20 ribu dan eksekutif Rp 25 ribu untuk satu kali keberangkatan.
Rangkaian yang disediakan ada dua yakni rangkaian Cindua mato dan rangkaian si Binuang. "Di hari biasa lima gerbong, sedangkan untuk Lebaran lima buah gerbong disatukan hingga jadi sepuluh," ujarnya.